JAYAPURA — Mahasiswa Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Cenderawasih melaksanakan studi lapangan bersama masyarakat Kampung Tobati, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Sabtu, 27 Juni 2026. Kegiatan tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi potensi sumber daya pesisir sekaligus merumuskan peluang pengembangan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal.
Studi lapangan bertajuk “Pengembangan Masyarakat Pesisir Berbasis Potensi Lokal Bersama Masyarakat Kampung Tobati” itu merupakan bagian dari mata kuliah Perencanaan Wilayah Daerah Pesisir dan Pegunungan. Kegiatan berlangsung mulai pukul 10.00 WIT dengan melibatkan mahasiswa, perangkat kampung, tokoh adat, serta masyarakat setempat.
Kampung Tobati dikenal sebagai permukiman pesisir dengan rumah-rumah panggung yang dibangun di atas perairan dangkal. Berdasarkan data yang tercantum dalam laporan, kampung tersebut memiliki 344 penduduk yang tergabung dalam 98 kepala keluarga pada 2023. Sebagian besar masyarakat menggantungkan penghidupan pada kegiatan penangkapan ikan, baik di dalam maupun di luar teluk.
Selain perikanan, Kampung Tobati mempunyai potensi wisata alam dan budaya yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Potensi tersebut mencakup lanskap perkampungan pesisir, rumah panggung, seni relief, tarian tradisional, nyanyian, serta kehidupan masyarakat adat yang masih dipertahankan hingga saat ini.
Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan manfaat ekonomi yang optimal. Hasil perikanan umumnya masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diterima masyarakat relatif terbatas. Pengembangan usaha lokal juga menghadapi kendala berupa keterbatasan keterampilan pengolahan produk, kewirausahaan, pemasaran digital, teknologi, dan penguatan kelembagaan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat dan mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok diskusi. Kelompok pertama mengidentifikasi sejarah kampung, adat istiadat, ruang hidup masyarakat, sistem kepemimpinan, dan mekanisme penyelesaian sengketa. Sementara itu, kelompok kedua menyusun peta administratif dan memetakan berbagai potensi kampung, termasuk infrastruktur, wilayah mata pencaharian, serta kawasan yang dianggap sakral.
Hasil diskusi kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok. Proses partisipatif tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengetahuan mengenai wilayahnya sendiri, termasuk hubungan antara aktivitas ekonomi, kondisi lingkungan, sistem adat, dan pemanfaatan ruang pesisir.
Kearifan lokal menjadi salah satu unsur penting yang ditemukan dalam studi tersebut. Pemerintahan adat Kampung Tobati berpusat pada pemimpin adat yang disebut Charsori, didukung oleh pemimpin klan atau Har-hbur. Keduanya memiliki peran dalam pengambilan keputusan, penyelesaian sengketa, pemberian sanksi adat, dan pelaksanaan berbagai program yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Masyarakat Tobati juga memiliki aturan adat yang mengatur hubungan sosial dan pemanfaatan sumber daya. Dalam kegiatan menangkap ikan, misalnya, terdapat pembagian wilayah dan waktu penangkapan yang berkaitan dengan kepercayaan serta pengetahuan masyarakat terhadap kondisi alam. Praktik tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi pesisir perlu tetap mempertimbangkan nilai budaya dan tata kelola adat setempat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa MPWK Uncen mendorong pengembangan usaha produktif berbasis hasil laut, wisata pesisir, seni budaya, dan potensi lokal lainnya. Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi, menjaga lingkungan pesisir, dan melestarikan identitas budaya Kampung Tobati.
Laporan studi lapangan merekomendasikan agar pemerintah daerah memberikan pelatihan, pendampingan, dukungan sarana dan prasarana, serta memperluas akses pemasaran bagi produk masyarakat. Perguruan tinggi juga diharapkan melanjutkan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, disertai pemantauan dan evaluasi berkala terhadap program pengembangan Kampung Tobati.
Kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha menjadi faktor penting agar potensi Kampung Tobati dapat dikelola secara partisipatif dan berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan pesisir tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan perlindungan terhadap lingkungan, ruang hidup, dan warisan budaya masyarakat setempat.




