Jayapura, 19 Agustus 2026. Program Pascasarjana Universitas Cenderawasih (Uncen) menyelenggarakan Kuliah Umum Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 dengan tema “Membangun Ekonomi dari Kampung: Koperasi, Keuangan Inklusif, dan Bisnis Global.” Kegiatan berlangsung secara daring melalui Zoom mulai pukul 08.00 WIT dan diikuti mahasiswa Program Magister (S2) dan Doktor (S3) Universitas Cenderawasih.

Kuliah umum dimoderatori oleh Prof. Dr. Auldry Walukouw, S.Pd., M.Si. Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta sambutan Direktur Program Pascasarjana Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Janviter Manalu, M.Si., CEGI.

Selain membahas penguatan ekonomi kampung, kegiatan ini juga memberikan pembekalan kepada mahasiswa mengenai penyelenggaraan akademik dan mekanisme pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Materi utama kemudian diarahkan pada pengembangan koperasi, keuangan inklusif, peningkatan nilai tambah produk lokal, inovasi, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pembangunan ekonomi masyarakat.

Pascasarjana Uncen Dorong Mahasiswa Menghasilkan Karya yang Berdampak

Wakil Direktur I Program Pascasarjana Universitas Cenderawasih, Dr. Frans A. Asmuruf, M.Si., menyampaikan materi mengenai penyelenggaraan akademik. Ia menekankan pentingnya kedisiplinan selama proses pendidikan, integritas dalam penelitian, serta orientasi mahasiswa untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat Papua.

Mahasiswa diharapkan memiliki tujuan akademik yang jelas sejak awal masa studi. Mereka perlu memahami alasan melanjutkan pendidikan, menentukan karya utama yang akan dihasilkan, serta memiliki komitmen untuk menyelesaikan studi dengan baik.

Pada jenjang magister, mahasiswa menghasilkan tesis sebagai karya akademik utama, sedangkan mahasiswa program doktor menghasilkan disertasi. Karya ilmiah tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga memiliki relevansi terhadap kebutuhan masyarakat dan pemerintah.

Penelitian perlu didukung data yang sahih, metode yang dapat dipertanggungjawabkan, dan analisis yang mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan, inovasi, maupun solusi atas berbagai persoalan pembangunan.

Pada sesi berikutnya, Fadly Yizhar, S.E., M.M., selaku Bendahara Program Pascasarjana, menjelaskan mekanisme pembayaran UKT. Pembayaran UKT menjadi salah satu tahapan penting dalam proses aktivasi mahasiswa pada sistem akademik, termasuk untuk melanjutkan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) dan mengikuti proses perkuliahan.

Koperasi Desa Perlu Bergerak ke Rantai Nilai yang Lebih Luas

Materi utama kuliah umum disampaikan oleh Dr. Agung Sudjatmoko, S.Pd., M.M. dari BINUS University Business School dengan topik “Membangun Koperasi Desa, Memperkuat Rantai Nilai Nasional: Menuju Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Dunia.”

Dalam paparannya, Dr. Agung menyoroti kondisi koperasi Indonesia yang masih menghadapi tantangan dalam menciptakan nilai ekonomi. Pada 2024, jumlah koperasi aktif mencapai 131.617 unit dengan sekitar 29,8 juta anggota, tetapi kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih sekitar 0,97 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa besarnya jumlah koperasi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kemampuan menciptakan nilai tambah ekonomi. Banyak koperasi masih terkonsentrasi pada kegiatan konsumsi dan simpan pinjam. Sementara itu, keterlibatan koperasi pada sektor produksi, pengolahan, logistik, hingga pemasaran masih perlu diperkuat.

Salah satu persoalan yang dibahas adalah kebocoran nilai atau value leakage dalam rantai pasok desa. Petani dan nelayan sering berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah dan harus menanggung risiko produksi yang relatif tinggi. Sebaliknya, nilai tambah yang lebih besar justru banyak terbentuk pada tahap pengolahan, distribusi, hingga pemasaran.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, koperasi desa perlu bertransformasi menjadi Koperasi Modern Terintegrasi. Koperasi tidak cukup hanya menjalankan kegiatan simpan pinjam, tetapi perlu menjadi aktor utama dalam ekosistem produksi dan bisnis desa.

Dr. Agung menjelaskan empat fungsi strategis koperasi modern, yaitu sebagai Economic Aggregator, Service Platform, Value-Adding Enterprise, dan Value-Chain Connector.

Melalui fungsi tersebut, koperasi dapat mengonsolidasikan kebutuhan dan pasokan anggota, menyediakan akses terhadap pembiayaan dan logistik, meningkatkan nilai tambah produk, serta menghubungkan hasil produksi masyarakat dengan pasar nasional maupun global.

Model bisnis koperasi juga perlu bergerak dari pendekatan supply-driven menuju demand-driven. Produksi harus semakin didasarkan pada informasi mengenai kebutuhan dan permintaan pasar, bukan sekadar menghasilkan produk terlebih dahulu kemudian mencari pembeli.

Digitalisasi dan AI Perkuat Tata Kelola Koperasi

Transformasi koperasi juga membutuhkan tata kelola yang mampu menggabungkan prinsip democratic ownership dengan professional management.

Anggota tetap menjadi pemilik koperasi dan memiliki hak untuk menentukan arah strategis organisasi melalui prinsip one member, one vote serta Rapat Anggota Tahunan (RAT). Namun, pengelolaan kegiatan bisnis harus dilakukan secara profesional agar koperasi mampu berkembang dan berkompetisi.

Digitalisasi menjadi salah satu instrumen penting dalam proses tersebut. Teknologi digital dapat digunakan dalam pengelolaan keanggotaan, keuangan, rantai pasok, distribusi, hingga pemasaran.

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) juga dinilai dapat mendukung pengambilan keputusan ekonomi. AI dapat dikembangkan sebagai economic intelligence, misalnya untuk melakukan prediksi permintaan (demand forecast), menganalisis pergerakan harga, hingga membantu menilai kelayakan pembiayaan.

Dr. Agung juga memaparkan peta jalan transformasi koperasi selama 10 tahun. Proses dimulai dengan pemetaan rantai nilai dan identifikasi kebocoran nilai. Tahap selanjutnya mencakup penguatan kelembagaan dan manajemen, pembangunan fasilitas pengolahan dan logistik bersama, industrialisasi nilai tambah, penguatan ekspor, riset dan pengembangan, serta penerapan supply-chain intelligence.

Kampung Didorong Menjadi Pusat Produksi dan Inovasi

Perspektif mengenai pembangunan ekonomi kampung dilanjutkan oleh Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring, S.E., M.Si. dari Universitas Ciputra melalui materi bertema “Dari Kampung, Koperasi, dan Keuangan Inklusif untuk Dunia dan Bisnis Global.”

Prof. Murpin menekankan perlunya perubahan cara pandang terhadap kampung. Kampung tidak semestinya hanya diposisikan sebagai wilayah pinggiran atau objek pembangunan. Kampung memiliki potensi untuk berkembang menjadi pusat inovasi, produksi, dan pertumbuhan ekonomi baru.

Papua memiliki berbagai potensi lokal yang dapat dikembangkan, seperti sagu, kopi Papua, madu hutan, hasil perikanan, kerajinan, tenun dan noken, makanan khas, serta kekayaan alam dan budaya.

Potensi tersebut perlu dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Produk lokal tidak cukup hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Pengolahan produk, peningkatan kualitas kemasan, pembangunan merek, dan pemasaran melalui teknologi digital perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi kampung.

Dalam kerangka tersebut, koperasi dapat berfungsi sebagai mesin ekonomi kolektif masyarakat. Koperasi dapat bergerak pada produksi pertanian dan perikanan, perdagangan, pemasaran, logistik, rantai pasok, layanan digital, hingga layanan keuangan mikro.

Selain koperasi, keuangan inklusif menjadi faktor penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Akses terhadap layanan keuangan formal yang aman, berkualitas, tepat waktu, dan terjangkau dapat membantu masyarakat mengelola pendapatan, memperhitungkan risiko, serta mengembangkan kegiatan usaha secara lebih berkelanjutan.

Generasi Muda Papua Menjadi Bagian Penting Transformasi Ekonomi Kampung

Prof. Murpin juga mengajak mahasiswa Pascasarjana Universitas Cenderawasih melihat persoalan pembangunan kampung melalui pendekatan multidisiplin dan multitalenta. Berbagai bidang ilmu perlu saling terhubung agar solusi yang dihasilkan sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks Papua, pembangunan kampung tidak harus selalu dimulai dengan meniru model desa maju yang memiliki infrastruktur besar. Pengembangan dapat dimulai dari potensi yang telah dimiliki masyarakat, kemudian diperkuat melalui pengelolaan profesional dan dukungan teknologi.

Generasi muda memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Kemampuan dalam fotografi, media sosial, bahasa asing, pemasaran digital, serta pengembangan wisata dapat digunakan untuk memperkenalkan potensi kampung kepada pasar yang lebih luas.

Teknologi digital juga membuka peluang bagi produk lokal untuk menjangkau konsumen tanpa terbatas oleh jarak geografis. Dengan pengemasan, pemasaran, dan pengelolaan usaha yang tepat, produk kampung memiliki peluang untuk berkembang dari pasar lokal menuju pasar nasional bahkan global.

Prof. Murpin menegaskan bahwa masa depan pembangunan Indonesia tidak hanya bergantung pada pertumbuhan kawasan perkotaan. Pembangunan juga membutuhkan petani yang produktif, nelayan yang mandiri, UMKM yang berkembang, masyarakat yang memperoleh akses terhadap layanan keuangan, serta generasi muda yang mampu melihat peluang global.

Melalui penyelenggaraan kuliah umum ini, Program Pascasarjana Universitas Cenderawasih memperkuat pesan bahwa pembangunan ekonomi Papua dapat dimulai dari kampung. Strateginya mencakup optimalisasi potensi lokal, penguatan kelembagaan koperasi, perluasan akses keuangan inklusif, peningkatan nilai tambah produk, profesionalisasi pengelolaan usaha, serta pemanfaatan teknologi digital.

Semangat “dari kampung, oleh kampung, dan untuk dunia” menjadi salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam kegiatan tersebut. Pendekatan ini menempatkan masyarakat kampung sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi yang mandiri, produktif, berdaya saing, dan mampu terhubung dengan pasar yang lebih luas.